Perjalanan pendidikan Doktor Syarifudin menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Dosen yang juga alumni Universitas Harkat Negeri, dahulu bernama Politeknik Harapan Bersama ini menempuh perjalanan panjang, mulai dari bekerja sebagai drafter, menjadi aktivis mahasiswa, merakit mobil listrik, berjualan nasi goreng, hingga akhirnya meraih gelar doktor di bidang Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip), setelah mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji, pada Jumat, (25/9/2026).
Syarifudin merupakan alumni angkatan pertama Program Studi D3 Teknik Mesin Politeknik Harapan Bersama dan menyelesaikan pendidikan pada 2012. Jauh sebelum menjadi mahasiswa, ia telah bekerja selama empat tahun sebagai drafter di perusahaan manufaktur Jakarta.
Pengalaman bekerja tersebut menjadi modal penting bagi Syarifudin untuk menjalani pendidikan vokasi. Selama kuliah, meski usia saat itu sudah 23 tahun, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik, serta terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. Ia dipercaya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Mesin yang pertama.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika Syarifudin bersama 26 mahasiswa lainnya mengembangkan mobil listrik. Ia dipercaya menjadi salah satu koordinator dalam proses perakitan mobil tersebut.
Mobil listrik karya mahasiswa itu kemudian diikutsertakan dalam kompetisi di Politeknik Negeri Bandung. Kerja keras tim membuahkan hasil. Mobil tersebut berhasil meraih juara pada kategori mobil hemat energi, tanjakan, dan rem.
Bagi Syarifudin, pengalaman tersebut bukan sekadar prestasi kompetisi. Proses itu mempertemukannya dengan persoalan teknis nyata dan mengajarkannya tentang kerja tim, kepemimpinan, ketekunan, serta keberanian untuk mencoba.
Setelah menyelesaikan pendidikan D3 pada 2012, Syarifudin mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Universitas Pancasakti Tegal melalui program konversi. Pada saat yang sama, ia bekerja di kampus sebagai karyawan magang, admin, dan laboran di Program Studi D3 Teknik Mesin.
Namun, perjalanan menyelesaikan pendidikan S1 tidak selalu mudah. Untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan, Syarifudin menjalani berbagai pekerjaan sampingan.
Di kampung halamannya di Brebes, ia bekerja sebagai sopir mobil bak sewaan untuk mengangkut barang. Di Tegal, ia juga berjualan nasi goreng pada 2013 hingga 2015.
Rutinitasnya sangat padat. Setiap pagi, Syarifudin berbelanja kebutuhan dagangan ke pasar. Setelah itu, ia bekerja di kampus sejak pukul 07.00 hingga sore hari. Malamnya, ia kembali bekerja dengan berjualan nasi goreng hingga sekitar pukul 02.00 dini hari. Rutinitas tersebut dijalani di tengah perjuangannya menyelesaikan pendidikan S1.
Pada usia 26 tahun, Syarifudin juga memutuskan menikah ketika masih menempuh pendidikan. Tempat ia berjualan nasi goreng sempat disewa sekaligus menjadi tempat tinggal bersama istrinya yang ketika itu sedang mengandung. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 pada 2015, Syarifudin berhenti berjualan nasi goreng dan mulai membantu mengajar secara penuh di kampus.

Pada tahun yang sama setelah menyelesaikan S1, Syarifudin melanjutkan studi S2 Teknik Mesin di Universitas Diponegoro (Undip). Ia mendapatkan dukungan beasiswa dari kampus dan berhasil menyelesaikan pendidikan magister pada awal 2018.
Tidak lama setelah menyelesaikan studi S2, Syarifudin mulai menekuni dunia penelitian secara lebih serius. Ia berhasil memenangkan pendanaan hibah Insinas dari Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud pada periode tersebut) senilai Rp160 juta pada tahun 2019. Menariknya, proposal dengan judul “Pengembangan energi terbarukan metanol, etanol, dan butanol pada penggunaan bahan bakar biodiesel B30, B40, B50, B60, B70, B80, B100 untuk menurunkan polusi udara dan mendukung kedaulatan energi nasional” ini merupakan proposal pertama yang pernah diajukannya.
Capaian tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya. Pengalaman mengajukan proposal, melakukan penelitian, dan memperoleh pendanaan memperkuat langkahnya sebagai akademisi sekaligus peneliti.
Padahal, sejak duduk di bangku SMK, Syarifudin pernah memiliki cita-cita untuk pergi ke Jepang. Ia bahkan telah mempelajari huruf Kanji. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah yang berbeda. Alih-alih bekerja di Jepang, Syarifudin memilih tetap mengabdi sebagai pendidik dan mengembangkan kepakarannya melalui penelitian.
Pada 2022, Syarifudin kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral di Program Studi S3 Teknik Mesin Universitas Diponegoro. Ia memilih fokus kepakaran pada bidang biofuel, khususnya bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai campuran bensin. Dalam disertasinya, Syarifudin mengangkat judul “Kajian Eksperimental dan Optimasi Rasio Campuran Bioetanol Mangrove sebagai Aditif Gasoline untuk Peningkatan Performa dan Reduksi Emisi pada Mesin Spark Ignition.”
Penelitian tersebut mengkaji pemanfaatan bioetanol yang berasal dari mangrove sebagai bahan campuran gasoline. Kajian ini diarahkan untuk melihat potensi bahan bakar alternatif dalam meningkatkan performa mesin sekaligus mengurangi emisi.
Pengembangan bahan bakar alternatif juga memiliki relevansi dengan kebutuhan energi. Pemanfaatan sumber energi alternatif dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, terutama ketika terjadi kenaikan harga maupun keterbatasan pasokan bahan bakar.
Bagi Syarifudin, penelitian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Dari pengalaman sebagai teknisi dan mahasiswa vokasi, ia kemudian berkembang menjadi pendidik dan peneliti yang mengembangkan solusi berbasis teknologi.
Perjalanan Syarifudin menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu ditempuh melalui jalan yang mudah. Ada masa ketika ia harus membagi waktu antara kuliah, bekerja di kampus, menjadi sopir angkutan barang, dan berjualan nasi goreng hingga dini hari.
Namun, setiap pekerjaan yang dijalani menjadi bagian dari proses membangun dirinya. Dari ruang kelas D3 Teknik Mesin, pengalaman organisasi, bengkel perakitan mobil listrik, gerobak nasi goreng, laboratorium, hingga ruang penelitian doktoral, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang saling terhubung.
Syarifudin menjalani Sidang Disertasi Program Doktor Teknik Mesin Universitas Diponegoro, dengan tim penguji dari internal dan eksternal dengan kepakaran Teknologi konversi energi. Sidang tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademiknya.
Kisah Syarifudin sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat menjadi ruang untuk mengubah perjalanan hidup. Ia berangkat dari pendidikan vokasi, tumbuh melalui pengalaman kerja dan organisasi, menghadapi keterbatasan ekonomi, hingga akhirnya mampu mengembangkan kepakaran di bidang teknologi energi alternatif.
Bagi Universitas Harkat Negeri, perjalanan Syarifudin juga menjadi cerminan dari semangat pendidikan terapan. Pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas. Pengalaman kerja, keterampilan, keberanian mencoba, riset, dan kontribusi kepada masyarakat menjadi bagian dari proses membangun kompetensi.
Dari kampus yang dahulu bernama Politeknik Harapan Bersama, Syarifudin memulai langkahnya. Kini, setelah menempuh perjalanan panjang hingga pendidikan doktoral, ia terus membawa semangat yang sama: belajar, bekerja, meneliti, dan memberi manfaat melalui ilmu pengetahuan.
Karena perjalanan pendidikan tidak selalu tentang seberapa cepat seseorang sampai pada tujuan. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika jalannya penuh tantangan.