Daftar Sekarang

Riset Berdampak, Universitas Harkat Negeri Kembangkan Prototipe Pengolah Limbah Cair Batik Berbasis Fotokatalis

13 Oktober 2026 11:35:00 WIB
Riset Berdampak, Universitas Harkat Negeri Kembangkan Prototipe Pengolah Limbah  Cair Batik Berbasis Fotokatalis

Universitas Harkat Negeri mengembangkan prototipe sistem pengolah limbah cair industri batik
berbasis fotokatalis ZnO-Ag. Prototipe tersebut diuji untuk melihat kemampuannya dalam
menurunkan sejumlah parameter pencemar pada limbah cair industri batik.
Penelitian bertajuk “Pengujian Prototipe Sistem Pengolah Limbah Cair Industri Batik Berbasis
Fotokatalis ZnO-Ag” ini mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains,
dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui program Pengujian Prototipe. Pengujian dilaksanakan
pada 13 Agustus 2026 di Program Studi DIII Teknik Mesin Universitas Harkat Negeri.
Penelitian dikembangkan oleh tim dosen lintas program studi yang diketuai Wilda Amananti dari
Program Studi D-3 Teknik Mesin. Tim juga melibatkan Istiqomah Dwi Andari dari Program
Studi D-3 Kebidanan dan Dwi Intan Af’idah dari Program Sarjana Terapan Teknik Informatika.
Prototipe memanfaatkan teknologi fotokatalis ZnO-Ag untuk mengolah limbah cair industri
batik. Pengujian dilakukan dengan membandingkan karakteristik limbah sebelum pengolahan,
setelah dua jam, dan setelah empat jam proses pengolahan.
Hasil pengujian menunjukkan adanya penurunan pada sejumlah parameter pencemar. Nilai
Biochemical Oxygen Demand (BOD) yang pada awal pengujian mencapai 1.202,9 mg/L turun
menjadi 410,6 mg/L setelah dua jam dan menjadi 30,6 mg/L setelah empat jam.
Penurunan juga terjadi pada Chemical Oxygen Demand (COD), dari 2.313,4 mg/L pada kondisi
awal menjadi 630,6 mg/L setelah dua jam dan 67,2 mg/L setelah empat jam. Sementara itu, Total
Suspended Solids (TSS) turun dari 140,0 mg/L menjadi 37,7 mg/L setelah dua jam dan 32,6
mg/L setelah empat jam.
Parameter Total Dissolved Solids (TDS) juga menunjukkan penurunan dari 5.497,8 mg/L pada
kondisi awal menjadi 1.511,8 mg/L setelah dua jam dan 773,1 mg/L setelah empat jam. Untuk
parameter mikrobiologi, Total Coliform tetap berada pada angka 0 MPN/100 mL pada seluruh
tahap pengujian.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengolahan hingga empat jam, terjadi
penurunan nilai BOD, COD, TSS, dan TDS pada sampel yang diuji. Penurunan paling besar
terlihat pada parameter BOD dan COD. Data tersebut menjadi bahan awal bagi tim peneliti
untuk mengevaluasi kemampuan dan kinerja prototipe. Ketua tim penelitian Wilda Amananti
mengatakan, pengujian ini menjadi langkah awal untuk melihat efektivitas sistem sekaligus
menentukan pengembangan selanjutnya.

“Hasil pengujian menunjukkan adanya penurunan parameter pencemar setelah proses
pengolahan, terutama pada BOD dan COD. Ini menjadi langkah penting bagi kami untuk terus
mengembangkan prototipe agar semakin optimal dan dapat diterapkan dalam pengelolaan limbah
industri,” ujar Wilda Amananti.
Prototipe yang dikembangkan Universitas Harkat Negeri juga mendapatkan penilaian positif dari
pakar lingkungan. Yan El Rizal Unzillatirrizqi Dewantoro menilai prototipe tersebut sudah baik
dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Menurutnya, hasil pengembangan yang telah dilakukan menjadi dasar yang baik bagi tim peneliti
untuk melakukan penyempurnaan pada tahap berikutnya.
“Prototipe sistem pengolah limbah cair industri batik berbasis fotokatalis ZnO-Ag yang
dikembangkan sudah sangat baik dan sangat layak untuk terus dikembangkan,” ujar Yan.
Penilaian tersebut menjadi masukan bagi tim peneliti untuk meningkatkan kinerja dan kesiapan
prototipe agar semakin sesuai untuk mendukung pengolahan limbah cair industri batik.
Melalui penelitian ini, Universitas Harkat Negeri terus mendorong hasil riset dosen agar tidak
berhenti pada tahap pengembangan konsep, tetapi berlanjut hingga pengujian dan pengembangan
prototipe yang berpotensi diterapkan. Upaya tersebut diharapkan dapat berkontribusi pada
pengelolaan limbah industri yang lebih baik sekaligus memperkuat pemanfaatan hasil penelitian
perguruan tinggi bagi kebutuhan masyarakat dan lingkungan.

Bagikan Berita ini: