Daftar Sekarang

Ahmad Tohari Ajak Teladani Cinta Nabi dalam Kepemimpinan di Majelis Reboan Universitas Harkat Negeri

25 Februari 2026 15:19:00 WIB
images/article_img_Ahmad_Tohari_Ajak_Teladani_Cinta_Nabi_dalam_Kepemimpinan_di_Majelis_Reboan_Universitas_Harkat_Negeri.jpg

Universitas Harkat Negeri menggelar kegiatan keislaman melalui Majelis “Reboan” bertajuk “Menguatkan Kembali Ruh Kepemimpinan Publik: Belajar dari Para Nabi”. Kegiatan yang merupakan serangkaian Ramadan on Campus ini dilaksanakan di Aula Kampus Mataram pada Rabu, (25/2/2026) dan akan berlangsung selama tiga kali sepanjang bulan Ramadan, setiap pekan sekali.

Diskusi menghadirkan Sudirman Said selaku Rektor Universitas Harkat Negeri serta Ahmad Tohari sebagai budayawan. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama dalam membaca kembali krisis kepemimpinan publik melalui perspektif nilai-nilai kenabian.

Ketua Forum Mahasiswa Islam (Formasi), Alif Avicena, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran peserta sekaligus menegaskan harapan agar forum ini menjadi ruang pembentukan karakter kepemimpinan yang utuh.

Ia berharap Majelis Reboan dapat menjadi wadah untuk menyadari dan menyiapkan diri menjadi pemimpin yang tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga mampu mengemban tanggung jawab moral, sosial, serta spiritual.

Dalam sesi diskusi yang dimoderatori oleh M. Fikri Hidayatullah yang merupakan Direktur Administrasi dan Pengembangan Akademik Universitas Harkat Negeri, pembahasan diarahkan pada bagaimana nilai-nilai Islam dapat dikenalkan melalui perspektif pendidikan dan keteladanan para cendekiawan. Ia membuka ruang dialog agar peserta dapat menggali pemikiran narasumber secara lebih kontekstual dan reflektif.

Dalam pemaparannya, Sudirman Said menyoroti pentingnya memahami kepemimpinan secara realistis sebagaimana dinasihatkan oleh pemikir politik klasik, Niccolo Machiavelli. Ia menjelaskan bahwa memilih dan membentuk pemimpin tidak bisa dilepaskan dari kesadaran bahwa manusia bukanlah malaikat, sehingga yang utama adalah memilih mereka yang “dosanya paling kecil” dan memiliki nilai kepemimpinan yang kuat.

“Warga negara tidak boleh berjarak dari urusan publik. Kita harus terlibat dalam pengurusan negara dan memilih pemimpin secara rasional, melihat karya dan perilakunya, bukan sekadar citra. Manusia bukan malaikat, maka pilihlah yang paling kecil mudaratnya dan paling kuat nilai kepemimpinannya,” tegasnya.

Ia juga menyinggung adanya krisis kepemimpinan yang ditandai dengan penurunan kualitas dari masa ke masa, namun tetap menyampaikan optimisme terhadap masa depan bangsa.

“Saya optimis keadaan akan berubah. Hidup itu siklus. Masa nyaman sering melahirkan generasi yang tidak teruji, tetapi masa sulit justru melahirkan calon pemimpin tangguh karena mereka dipaksa mencari solusi oleh keadaan. Saya percaya bangsa ini akan menemukan momentum kebangkitannya,” tegasnya saat menjawab pertanyaan peserta.

Sementara itu, Ahmad Tohari mengajak peserta meneladani kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya sebagai fondasi kepemimpinan sejati.

“Kanjeng Nabi selalu menyebut ‘ummati, ummati’—umatku, umatku. Pertanyaannya, apakah hari ini masih ada pemimpin yang benar-benar mencintai rakyatnya? Seorang pemimpin harus menjadi teladan. Cintailah saudaramu lebih dari mencintai dirimu sendiri,” tuturnya.

Ia juga menyoroti fenomena feodalisme dan praktik politik uang yang menurutnya menjadi tantangan dalam mewujudkan demokrasi yang sehat.

“Demokrasi yang sehat tumbuh dari rakyat di bawah dan naik ke atas. Kita harus membebaskan diri dari feodalisme. Saya berharap generasi muda masuk ke ruang-ruang politik dan membawa udara baru, menghadirkan demokrasi yang hidup, bukan rasa kerajaan,” pungkasnya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta terkait optimisme mencetak pemimpin besar di tengah kondisi bangsa saat ini, serta bagaimana membangun empati dan cinta kasih dalam kepemimpinan.

Sebagai kegiatan keislaman perdana setelah berstatus universitas, Majelis Reboan diharapkan menjadi titik awal penguatan tradisi intelektual-spiritual di lingkungan Universitas Harkat Negeri, sekaligus ruang pembinaan generasi pemimpin yang berakar pada nilai, cinta kasih, dan tanggung jawab moral.

Bagikan Berita ini: