Sebanyak 755 wisudawan dan wisudawati Universitas Harkat Negeri mengikuti Wisuda Ke-2 pada Selasa, (20/10/2026) di Sebayu Convention Hall, Bahari Heritage Tegal. Wisuda ini menjadi momentum penting untuk memasuki dunia profesional dan berkontribusi bagi masyarakat. Dalam forum akademik tersebut, ekonom Bhima Yudhistira yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan pesan strategis mengenai tantangan ekonomi masa depan sekaligus mengajak para lulusan untuk menjadi pencipta solusi, bukan sekadar pencari kerja.
Dalam orasi akademiknya, Bhima mengawali dengan memberikan apresiasi kepada seluruh wisudawan atas kerja keras, ketangguhan, dan dedikasi selama menempuh pendidikan tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan meraih gelar akademik bukanlah akhir perjalanan. Para lulusan justru akan menghadapi tantangan baru di tengah perubahan lanskap ekonomi dan dunia kerja yang semakin dinamis.
Menurutnya, lulusan Universitas Harkat Negeri memasuki dunia kerja pada momentum penting transformasi ekonomi Indonesia. Setidaknya terdapat tiga perubahan besar yang perlu menjadi perhatian generasi muda, yakni disrupsi teknologi, transisi menuju ekonomi hijau, serta tantangan dalam memanfaatkan bonus demografi.
Pertama, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi telah mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor. Sejumlah pekerjaan konvensional mulai mengalami perubahan, sementara peluang baru tumbuh di bidang analisis data, ekonomi digital, dan pengelolaan teknologi.
Bhima menegaskan bahwa gelar akademik memang menjadi modal awal untuk memasuki dunia profesional. Namun, kemampuan untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan (up-skilling), dan mempelajari kompetensi baru (re-skilling) menjadi faktor penting agar lulusan mampu bertahan dan berkembang.
Kedua, transisi menuju ekonomi hijau (green economy) membuka peluang baru bagi tenaga kerja muda. Prinsip keberlanjutan kini semakin relevan dalam sektor manufaktur, energi, pertanian, hingga jasa keuangan. Kondisi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang memahami keberlanjutan, pekerjaan hijau (green jobs), serta tata kelola lingkungan.
Ketiga, Indonesia memiliki peluang besar melalui bonus demografi. Namun, potensi tersebut hanya dapat memberikan manfaat apabila generasi muda memiliki produktivitas, keterampilan, dan daya saing. Bhima juga menyoroti potensi ekonomi daerah, khususnya Tegal dan kawasan Jawa Tengah, yang memiliki peluang pengembangan di sektor maritim, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta industri kreatif.
Ia mendorong para lulusan perguruan tinggi agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah melalui inovasi dan kewirausahaan.
Untuk menghadapi perubahan tersebut, Bhima menitipkan tiga pesan strategis kepada para wisudawan. Pertama, menjadi problem solver atau pemecah masalah. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kepekaan dalam membaca persoalan masyarakat dan menghadirkan solusi nyata, baik melalui kewirausahaan berbasis teknologi maupun inovasi sosial.
Kedua, mengembangkan kelincahan beradaptasi (agility) dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Di tengah perkembangan teknologi, kemampuan manusia seperti empati, integritas, kepemimpinan, dan pemikiran kritis tetap memiliki peran penting dalam dunia profesional.
Ketiga, membangun jejaring dan kolaborasi lintas disiplin. Bhima menilai persoalan ekonomi modern semakin kompleks sehingga membutuhkan kerja sama berbagai bidang keahlian. Jejaring alumni dan kemitraan lintas sektor dapat menjadi modal untuk membangun ekosistem usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Menutup orasinya, Bhima mengajak seluruh wisudawan Universitas Harkat Negeri untuk tidak takut menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Sebaliknya, perubahan harus direspons dengan kesiapan belajar, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menciptakan peluang.
Ia berharap lulusan Universitas Harkat Negeri dapat menjadi sumber daya manusia yang tangguh, berintegritas, dan memiliki daya saing tinggi. Tidak hanya mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi daerah dan kemajuan bangsa.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh gelar yang diperoleh, tetapi juga oleh kemampuan lulusan dalam menerapkan ilmu pengetahuan, menciptakan inovasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.