Daftar Sekarang

Budiman Tanuredjo: Masa Depan Demokrasi Ditentukan Generasi Kampus Hari Ini

12 Maret 2026 16:34:00 WIB
images/article_img_Budiman_Tanuredjo:_Masa_Depan_Demokrasi_Ditentukan_Generasi_Kampus_Hari_Ini.jpg

Universitas Harkat Negeri kembali menggelar Seri Kajian Ramadan ke-3 bertajuk “Ramadan on Campus: Memperkokoh Peran Kampus dalam Konsolidasi Civil Society untuk Menjaga Demokrasi.” Kegiatan ini menghadirkan Budiman Tanuredjo, jurnalis senior Harian Kompas sekaligus mantan Pemimpin Redaksi Kompas (2014–2019), sebagai narasumber utama. Acara ini berlangsung di aula kampus Mataram, Universitas Harkat Negeri, pada Rabu, 11 Maret 2026.

Dalam paparannya, Budiman menekankan pentingnya peran kampus dalam membentuk kepemimpinan publik yang berintegritas menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia pada 2045. Menurutnya, generasi yang saat ini berada di bangku perguruan tinggi akan menentukan kualitas demokrasi Indonesia di masa depan.

“Generasi pendiri republik lahir dari krisis. Generasi Indonesia 2045 lahir dari kampus hari ini. Pertanyaannya, apakah mereka akan menjadi politisi biasa atau negarawan,” ujarnya.

Budiman menilai negarawan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kegelisahan intelektual dan keberanian moral untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi. Karena itu, kampus harus menjadi ruang yang memelihara tradisi berpikir kritis dan diskusi yang sehat.

Ia juga mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan penguatan berbagai institusi penting, mulai dari supremasi hukum, meritokrasi dalam kepemimpinan, kaderisasi partai politik yang sehat, hingga mekanisme checks and balances yang kuat.

“Kampus harus berani mengkritik kekuasaan tanpa menjadi partisan, menjadi suara nurani ketika hukum dilemahkan, dan membela prinsip, bukan figur,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said dalam sambutannya menyampaikan komitmen kampus untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, Universitas Harkat Negeri ingin membuktikan bahwa kampus di kota lapis kedua juga mampu menghadirkan pendidikan berkualitas tinggi.

“Kami di Harkat Negeri bertekad lebih sering menggunakan kata ‘meskipun’. Meskipun berada di kota second tier, kami percaya mutu pendidikan di sini akan menuju kelas satu,” ujar Sudirman.

Ia menambahkan bahwa Harkat Negeri tengah diarahkan menjadi applied university yang menekankan penguatan keterampilan serta pengembangan soft skill mahasiswa.

“Kami ingin menekan pengembangan soft skill. Ketika seseorang memiliki mental dan kemampuan interpersonal yang kuat, mereka akan mampu bertahan di mana pun,” jelasnya.

Selain itu, Universitas Harkat Negeri juga mulai memperluas jejaring akademik global, di antaranya dengan rencana kerja sama pengembangan pendidikan kesehatan bersama Harvard Medical School serta kolaborasi akademik dengan Kyoto University melalui Prof. Okamoto dari Southeast Asian Studies.

Diskusi mengenai peran kampus dalam demokrasi juga mengingatkan kembali pemikiran Mohammad Hatta mengenai tanggung jawab moral kaum intelektual. Dalam bukunya Tanggung Djawab Moril Kaum Inteligensia, Hatta menegaskan bahwa kaum intelektual tidak boleh bersikap pasif terhadap persoalan bangsa. Seorang akademisi, menurutnya, memiliki tanggung jawab intelektual sekaligus moral karena ilmu pada akhirnya bertujuan mencari dan membela kebenaran.

Hatta juga menekankan bahwa kaum intelegensia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan bernegara, sehingga tidak dapat menyerahkan sepenuhnya urusan publik kepada mereka yang memegang kekuasaan.

Melalui forum Ramadan on Campus ini, Universitas Harkat Negeri berharap kampus dapat terus menjadi ruang dialog kritis sekaligus tempat lahirnya pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral untuk menjaga demokrasi Indonesia.

Bagikan Berita ini: