Daftar Sekarang

Dari Pujian untuk KAI hingga Ancaman Kebangkrutan Negara: Refleksi Tajam Prof. Riwanto di Atas Kereta Istimewa

22 April 2026 13:43:00 WIB
images/article_img_Dari_Pujian_untuk_KAI_hingga_Ancaman_Kebangkrutan_Negara:_Refleksi_Tajam_Prof._Riwanto_di_Atas_Kereta_Istimewa.jpg

Kereta Luar Biasa (KLB) yang melaju dari Gambir menuju Tegal pada Rabu (22/4/2026) tidak hanya menjadi saksi pemandangan pesisir, tetapi juga menjadi panggung refleksi sosiologis yang menohok. Dalam "Sesi Bercerita tentang Kota Pesisir Utara Pulau Jawa" yang digagas Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) Universitas Harkat Negeri, Prof. Riwanto Tirtosudarmo membedah realitas sosial Indonesia tanpa tedeng aling-aling.

​Peneliti sosial kawakan di bidang Sosiologi dan Demografi ini membuka sesinya dengan sebuah pernyataan ironis yang memantik tawa sekaligus kegetiran peserta. Berada di atas kereta yang nyaman, Prof. Riwanto secara blak-blakan menyebut bahwa transportasi publik berbasis rel ini adalah anomali keberhasilan di negeri ini.

​"Saat ini, mungkin satu-satunya hal yang benar-benar bisa dibanggakan oleh Indonesia hanyalah PT KAI," ujarnya. Ia merujuk pada revolusi manajerial di era Ignasius Jonan yang sukses menyulap stasiun-stasiun menjadi rapi, manusiawi, dan secara tegas menegakkan aturan larangan merokok.

​Realitas Tata Kota dan Anomali Pantura

​Sayangnya, keberhasilan KAI berbanding terbalik dengan realitas tata ruang kota di Indonesia secara umum. Prof. Riwanto mengkritik keras fenomena laten di mana perencanaan kota di atas kertas selalu terlihat sempurna, namun pelaksanaannya di lapangan hampir selalu meleset dari ekspektasi.

​Buruknya tata kota ini pada akhirnya mengubah pola hidup masyarakat. "Bicara tentang kota saat ini, orang-orang di kota besar lebih memilih tinggal berdesakan di dekat stasiun commuter line. Bukan karena tata kotanya bagus, tapi semata-mata demi kemudahan akses," tegasnya.

​Perubahan pola hidup ini membawanya pada temuan risetnya mengenai kawasan pesisir. Prof. Riwanto mengungkapkan bahwa kota-kota di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa sejatinya adalah pusat perubahan sosial yang paling cepat bergejolak dibandingkan daerah mana pun di Indonesia. Arus manusia, budaya, dan ekonomi di Pantura menciptakan dinamika yang menuntut kebijakan yang jauh lebih adaptif.

​Kekuatan Warga dan Inspirasi Global

​Menghadapi karut-marut tata kelola oleh negara, Prof. Riwanto memberikan contoh betapa kuatnya kemandirian warga jika diberikan ruang. Ia mencontohkan fenomena di Klaten, Jawa Tengah, di mana sumber-sumber mata air (umbul) justru bisa dikelola dengan sangat baik, lestari, dan menguntungkan secara ekonomi oleh warga setempat tanpa adanya campur tangan pemerintah.

​Selain melihat ke akar rumput, ia juga mendesak agar para perencana kota dan akademisi tidak menutup mata dari dunia luar. "Kita harus melihat perubahan dan belajar kreativitas dari luar negara. Kita bisa melihat bagaimana negara tetangga yang sangat dekat, seperti Singapura, berinovasi merawat kotanya," paparnya.

​Dignity dan Harga Mati Keberagaman

​Menutup sesinya yang berbobot, Prof. Riwanto menitipkan harapan besar di pundak Universitas Harkat Negeri. Melalui inisiatif seperti PKPP ini, ia berharap kampus dapat mengembalikan dignity (martabat) warga negara dalam merasa memiliki dan merawat negaranya sendiri.

​Sebagai pamungkas, sang sosiolog memberikan sebuah peringatan keras mengenai masa depan demografi dan sosial bangsa.

​"Kuncinya ada pada keberagaman. Indonesia hanya akan berkembang dan maju jika kita benar-benar menghargai keberagaman. Sebaliknya, negara ini akan bangkrut jika terus-menerus menekan dan memberangus keberagaman itu sendiri," pungkas Prof. Riwanto, diiringi derak roda kereta yang terus melaju menembus lanskap Pantura.

Bagikan Berita ini: