Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai membuka peluang baru dalam pengembangan media pembelajaran. Untuk meningkatkan keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi digital, SMK Diponegoro Lebaksiu, Kabupaten Tegal, menggelar Workshop Pembuatan Media dan Video Pembelajaran pada Sabtu (10/10/2026) di aula sekolah setempat.
Kegiatan yang diikuti 25 guru tersebut menghadirkan Zaenul Arif, dosen Universitas Harkat Negeri, sebagai narasumber. Dalam workshop ini, peserta mendapatkan materi dan pendampingan mengenai pembuatan media pembelajaran menggunakan Canva AI, ChatGPT, dan Google Flow.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Diponegoro Lebaksiu, Dedi Iswanto, mengatakan kegiatan ini merupakan upaya sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi di dunia pendidikan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan dan keterampilan praktis kepada para guru dalam memanfaatkan teknologi AI untuk mengembangkan media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menarik. Guru tidak hanya perlu mengenal teknologi, tetapi juga mampu menerapkannya sesuai kebutuhan pembelajaran dan karakteristik peserta didik,” ujar Dedi.
Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan pada penggunaan ChatGPT untuk mengembangkan ide, menyusun materi, membuat naskah, dan merancang storyboard. Sementara itu, Canva AI digunakan untuk membantu pembuatan desain visual, sedangkan Google Flow diperkenalkan untuk mendukung pengembangan adegan video berbasis AI.
Melalui pendampingan tersebut, guru didorong untuk mengolah ide pembelajaran menjadi media visual dan video yang lebih menarik serta mudah dipahami siswa. Pemanfaatan berbagai perangkat AI ini diharapkan dapat membantu guru menyampaikan materi secara lebih efektif.
Zaenul Arif menjelaskan bahwa teknologi AI dapat menjadi alat bantu bagi guru untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan media pembelajaran yang lebih komunikatif. Meski demikian, penggunaannya tetap harus disertai pemeriksaan informasi dan penyesuaian materi dengan kebutuhan peserta didik.
“Teknologi AI bukan pengganti peran guru, melainkan alat bantu untuk memperkuat kreativitas dan efektivitas pembelajaran. Guru tetap perlu memeriksa akurasi informasi, kesesuaian materi dengan kurikulum, serta relevansinya dengan kebutuhan peserta didik,” jelas Zaenul.
Ia berharap workshop ini mendorong para guru untuk lebih percaya diri dalam bereksperimen dan berkolaborasi, sekaligus menerapkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, SMK Diponegoro Lebaksiu berharap para guru dapat mengembangkan media pembelajaran yang inovatif dan menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan belajar mengajar. Kolaborasi ini juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kompetensi pendidik dan kualitas pembelajaran di sekolah.