Cuaca panas yang belakangan ini memanggang sejumlah wilayah di Indonesia ternyata bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan ancaman diam-diam yang mematikan. Peringatan keras ini dilontarkan oleh Elisa Sutanudjaja, Direktur RUJAK Center For Urban Studies, dalam acara "Sesi Bercerita tentang Kota Pesisir Utara Pulau Jawa" yang digelar menyusuri rel dari Stasiun Gambir menuju Tegal, Rabu (22/4/2026).
Dalam diskusi berjalan hasil kolaborasi dengan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) Universitas Harkat Negeri di dalam gerbong Kereta Luar Biasa (KLB) tersebut, Elisa menyoroti tajam betapa rentannya kota-kota di Indonesia saat ini.
Menurutnya, kota-kota di Tanah Air sedang berada dalam fase yang cukup berbahaya akibat tingginya indikator Wet Bulb Globe Temperature (suhu bola basah). Ironisnya, ancaman ini berjalan layaknya 'pembunuh senyap' karena sangat minimnya penelitian yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi terkait.
"Kita sangat kekurangan riset soal ini. Jangan-jangan, diam-diam sudah banyak masyarakat yang menjadi korban atau terdampak kesehatannya karena paparan suhu tinggi ini tanpa kita sadari," ungkap Elisa.
Kelompok Rentan dan Ilusi AC
Lebih lanjut, Elisa membedah bahwa efek panas ekstrem ini dirasakan sangat berbeda oleh setiap generasi usia dan kelas ekonomi. Sayangnya, literasi panas publik di Indonesia dinilai masih sangat tertinggal. Hingga detik ini, pemerintah tidak pernah memberikan pelatihan kegawatdaruratan terkait efek mematikan yang ditimbulkan oleh serangan panas.
Kondisi ini diperparah dengan kesalahpahaman fatal di tengah masyarakat yang menganggap Air Conditioner (AC) sebagai jalan keluar.
"Penggunaan AC sejatinya adalah sebuah ilusi akan keberhasilan mengatasi panas. Secara ekonomi, kelompok miskin tidak mampu membeli AC. Di saat yang sama, penggunaan AC justru menghasilkan dan membuang panas yang lebih tinggi ke luar ruangan, yang ironisnya memperparah hawa panas yang harus ditanggung oleh masyarakat rentan," papar pakar tata kota ini.
Dampak suhu yang memanggang ini pun merambat ke sektor pendidikan. Elisa menyoroti bahwa anak-anak adalah kelompok yang sangat dirugikan, karena mereka kehilangan kenyamanan termal yang pada akhirnya membuat mereka kesulitan untuk berkonsentrasi saat belajar.
Kebijakan Publik, Bukan Takdir Alam
Hal yang paling menyita perhatian dari pemaparan Elisa siang itu adalah penegasannya bahwa krisis suhu di perkotaan ini tidak jatuh dari langit begitu saja.
"Semua krisis kenyamanan ini sebenarnya adalah efek dari kebijakan publik yang keliru, bukan takdir alam. Sepenuhnya masalah ini masih bisa dikendalikan oleh manusia jika ada regulasi yang berpihak pada keberlanjutan," tegasnya.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah kota di Indonesia untuk melek krisis dan segera memiliki Heat Action Plan (Rencana Aksi Menghadapi Panas). Ketiadaan rencana aksi ini dinilai sangat membahayakan nyawa masyarakat yang mencari nafkah di jalanan, terutama kelompok pekerja lapangan seperti pengemudi ojek online (ojol) dan pekerja konstruksi yang setiap hari harus bertaruh kesehatan di bawah terik matahari.
Dialog tajam mengenai krisis suhu dan kebijakan tata ruang ini menjadi salah satu perbincangan paling berbobot yang mewarnai perjalanan Kereta Istimewa menuju Tegal, sekaligus mengukuhkan urgensi dari kajian-kajian yang sedang dibangun oleh PKPP Universitas Harkat Negeri.