Universitas Harkat Negeri dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) hadirkan program inisiatif Primary Healthcare Impact Lab (PHIL) dengan menggagas Transformative Primary Healthcare Initiative for Sustainable Impact Across Indonesia and Southeast Asia, sebuah inisiatif strategis untuk mendorong transformasi layanan kesehatan primer yang berkelanjutan di Indonesia hingga kawasan Asia Tenggara. Program ini dimulai dengan diselenggarakannya Lokakarya di Kampus 3 Kalisoga, pada Kamis-Jumat, (12-13/2/26).
PHIL dikembangkan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan akademisi, praktisi kesehatan, peneliti, serta pemangku kebijakan guna memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer berbasis bukti ilmiah (evidence-based) dan praktik lapangan. Inisiatif ini dirancang tidak hanya berfokus pada perbaikan sistem, tetapi juga pada perubahan perilaku tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dan edukasi kepada masyarakat.
Sebagai tahap awal, pengembangan PHIL direncanakan dimatangkan di wilayah Tegal dengan melibatkan civitas akademika Universitas Harkat Negeri, termasuk dosen dan mahasiswa. Keterlibatan kampus diharapkan mampu memperkuat ekosistem keilmuan, riset terapan, serta implementasi layanan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Kaprodi Sarjana Terapan Kebidanan, Seventina Nurul Hidayah menyampaikan harapannya agar kolaborasi ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Senada dengan itu, Kaprodi D-3 Kebidanan, Adevia Maulidya Chikmah menegaskan bahwa visi dan misi program studi memiliki keselarasan kuat dengan pendekatan Primary Healthcare, khususnya dalam penguatan aspek promotif, preventif, serta pelayanan berbasis komunitas.
Founder dan CEO CISDI yang juga Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan, Diah Saminarsih, menjelaskan bahwa Primary Healthcare sejak lama menjadi pintu masuk strategis untuk menjangkau masyarakat luas dengan biaya terjangkau tanpa mengorbankan kualitas layanan. Namun, seiring waktu, tantangan operasional layanan kesehatan semakin kompleks, sementara perbaikan sistem berjalan relatif lambat.
“Transformasi ini diharapkan dapat ditularkan kepada generasi muda tenaga kesehatan sebagai pencerah nusantara yang mampu membawa perubahan nyata di masyarakat. Karena itu, PHIL tidak hanya fokus pada sistem, tetapi juga pada transformasi perilaku tenaga kesehatan dalam pelayanan dan edukasi,” ujarnya.
Dari sisi implementasi, CISDI telah memiliki pengalaman di 16 lokasi pelayanan kesehatan, mulai dari respons layanan saat pandemi COVID-19 hingga penguatan layanan Posyandu. Untuk tahap awal, lokasi pelatihan CISDI meliputi Klinik Universitas Harkat Negeri, sejumlah Puskesmas di wilayah Tegal, serta Puskesmas di wilayah Brebes.
Selain penguatan layanan, program PHIL juga membuka peluang pengembangan riset ilmiah yang dapat dipublikasikan dalam bahasa Inggris, sehingga memperkuat kontribusi Indonesia dalam diskursus kesehatan global.
Secara jangka panjang, PHIL disusun melalui roadmap pengembangan yang mencakup integrasi pengetahuan lokal, regional, dan global; penerjemahan hasil kajian ke dalam kebijakan melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pemangku kepentingan terkait; pengembangan Tamaris Stress Framework untuk manajemen tekanan kerja tenaga kesehatan; hingga rencana ekspansi nasional, regional Asia Selatan, integrasi Asia, serta kolaborasi global.
Melalui inisiatif ini, harapannya dapat menjadi katalis perubahan dalam penguatan layanan kesehatan primer yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.