Universitas Harkat Negeri melalui Program Studi S-1 Psikologi menggelar Kuliah Pakar Psikologi dengan tema “Kesehatan Mental di Era Digital untuk Generasi Gen Z”, bertempat di Aula Kampus Mataram Universitas Harkat Negeri pada Selasa, (13/01/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi S-1 Psikologi, siswa SMA/SMK, serta guru Bimbingan dan Konseling (BK) di wilayah Kota Tegal. Kuliah pakar ini menjadi ruang dialog lintas generasi untuk memahami dinamika kesehatan mental Generasi Z yang tumbuh dan berkembang di tengah pesatnya dunia digital.
Ketua Program Studi S-1 Psikologi, Ahmad Fadil, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar kuliah pakar, tetapi juga menjadi forum diskusi lintas generasi, khususnya dalam memahami kerentanan psikologis Gen Z.
“Generasi Z hidup di dunia digital yang sangat rentan dalam berbagai aspek. Hal ini memunculkan kerentanan psikologis yang khas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Gen Z menghadapi tantangan seperti stres akademik, krisis identitas, hingga krisis makna, termasuk kebingungan menentukan arah masa depan setelah lulus. Namun di sisi lain, Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang kreatif, reflektif, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
“Bagi mahasiswa psikologi, kegiatan ini menjadi bagian dari pembentukan profesionalisme, tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami karakter generasi secara langsung. Sementara bagi guru BK, kuliah pakar ini menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman terhadap peserta didik saat ini, dan bagi siswa, kegiatan ini diharapkan mampu memberi gambaran serta arah masa depan”, tambah Fadil.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan (FPP), Dr Ratih Sakti Prastiwi, menegaskan bahwa Gen Z merupakan generasi yang sejak lahir telah akrab dengan dunia digital dan media sosial.
“The power of netizen sangat besar. Penggunaan media sosial memiliki pengaruh dan dampak yang masif, dalam hal ini Gen Z memiliki peran strategis di ruang digital,” jelasnya.
Kuliah pakar ini menghadirkan dua narasumber. Narasumber pertama, Khotamanisah, menekankan bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian serius di tengah meningkatnya tekanan digital dan penggunaan media sosial. Tren kecemasan dan depresi terus meningkat seiring beban akademik dan kekhawatiran terhadap masa depan.
Ia menjelaskan bahwa kesehatan mental mencakup kemampuan mengenali dan mengelola emosi secara efektif, mengatasi tekanan dan menemukan keseimbangan, berfungsi secara optimal, berkarya dan berkontribusi positif, serta membangun hubungan yang sehat dan suportif.
Narasumber kedua, Muhammad Ifan Fauzi Samier Alwy, membahas tentang bagaimana menjadi Gen Z dengan mental yang sehat. Ia menekankan pentingnya mencintai diri sendiri apa adanya, menerima kelebihan dan kekurangan, menghargai diri di masa kini maupun masa lalu, serta tidak mengorbankan kesejahteraan psikologis demi kepentingan orang lain.
Selain itu, ia juga mengajak peserta untuk membiasakan afirmasi positif sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih terhadap diri sendiri.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kolaborasi berkelanjutan antara sekolah, universitas, dan komunitas dalam upaya membentuk generasi yang lebih sehat secara mental, tangguh, dan berdaya di era digital.