Membincangkan masa depan tata ruang kota pesisir tak seharusnya berjarak dengan realitasnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) Universitas Harkat Negeri menggelar sebuah ruang dialog bermakna bertajuk "Sesi Bercerita tentang Kota Pesisir Utara Pulau Jawa".
Lebih istimewa lagi, perjalanan sarat makna ini merupakan bagian dari pemanasan sekaligus rangkaian acara besar Peluncuran (Launching) Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) Universitas Harkat Negeri, yang puncaknya dijadwalkan berlangsung pada 22-23 April 2026 mendatang.
Acara ini mengambil latar yang tak biasa, yakni simposium berjalan di dalam gerbong Kereta Luar Biasa (KLB) Kereta Istimewa. Melaju melintasi rute bersejarah dari Stasiun Gambir, Jakarta, menuju Stasiun Tegal, perjalanan ini dirancang sebagai napak tilas sekaligus medium kontemplasi bagi para pesertanya.
Sembari mendengarkan paparan, para peserta dapat melihat langsung lanskap nyata pesisir utara Jawa (Pantura) dari balik jendela kereta menyatukan ruang diskursus dengan objek kajian yang sedang dibahas.
Untuk mengurai kompleksitas Pantura, acara ini menghadirkan tiga pakar terkemuka sebagai narasumber. Mereka adalah Marco Kusumawijaya (Direktur Pusat Kajian Perkotaan Pesisir, Universitas Harkat Negeri) yang membedah kacamata tata ruang, Elisa Sutanudjaja (Direktur RUJAK Center For Urban Studies) yang menyoroti arsitektur dan hak warga atas kota, serta Prof. Riwanto Tirtosudarmo (Peneliti Sosial) yang membawa perspektif tajam mengenai sosiologi dan pergerakan demografi penduduk pesisir.
Ditemani ritme laju roda besi kereta, sesi diskusi mengalir hangat namun mendalam. Berbagai isu krusial pesisir dibedah secara komprehensif, mulai dari ancaman ekologis hingga hak-hak masyarakat urban di tepi laut.
Dalam diskursusnya, Marco Kusumawijaya membuka pemikiran peserta dengan perspektif historis yang menggugah. Ia mengingatkan kembali bahwa kota-kota pesisir di Indonesia sejatinya bukanlah kawasan pinggiran, melainkan urat nadi dan penggerak utama peradaban sejak zaman kerajaan di Nusantara.
Untuk mengembalikan kejayaan kawasan pesisir di masa kini, Marco menitikberatkan pada esensi kolaborasi dan kerendahan hati institusional. "PKPP Universitas Harkat Negeri sadar betul akan posisinya. Kami hanyalah salah satu dari banyak butir mata rantai yang diperlukan untuk mencapai masa terang benderang bagi pesisir Indonesia di masa depan," tegas Marco, mengundang semua pihak untuk turut menyambung rantai perjuangan tersebut.
Sementara itu, Elisa Sutanudjaja membawa dimensi ekologis dan kesehatan masyarakat ke atas meja diskusi. Ia secara khusus menyoroti ancaman nyata dari tren peningkatan suhu bumi secara global. Menurut Direktur RUJAK Center For Urban Studies ini, kawasan pesisir harus ekstra waspada terhadap potensi rentetan krisis baru akibat cuaca ekstrem.
"Kita tidak boleh lengah dengan situasi saat ini. Jangan-jangan ke depannya akan timbul masalah-masalah baru yang lebih masif, terutama dari sisi ancaman kesehatan warga pesisir yang terdampak langsung oleh lonjakan suhu panas yang ekstrem," papar Elisa memberikan peringatan tajam.
Melengkapi kepingan diskusi, Prof. Riwanto Tirtosudarmo menyoroti dinamika masyarakat Pantura dari kacamata sosiologis. Merujuk pada rekam jejak penelitiannya, sosiolog kawakan ini mengungkapkan fakta yang sangat menarik. "Kota-kota di pesisir utara atau Pantura ini, berdasarkan apa yang pernah saya teliti, sejatinya merupakan pusat perubahan sosial yang paling cepat dibandingkan dengan tempat-tempat lain," ungkap Prof. Riwanto. Menurutnya, pergerakan sosial yang sangat dinamis dan cepat ini menjadi tantangan besar yang harus segera diantisipasi dengan tata ruang dan kebijakan yang sama adaptifnya.
Pemilihan moda transportasi darat menuju Tegal ini memiliki pesan tersirat. Tegal, sebagai salah satu titik nadi pergerakan ekonomi dan sosial di pesisir utara Jawa, menjadi muara yang tepat untuk menyimpulkan diskusi panjang ini.
"Sesi Bercerita tentang Kota Pesisir Utara Pulau Jawa" menjadi bukti nyata komitmen PKPP Universitas Harkat Negeri. Alih-alih merumuskan kebijakan dari menara gading kampus, mereka memilih untuk turun, melaju, dan melihat langsung denyut kehidupan masyarakat pesisir di atas Kereta Istimewa sebagai tonggak awal peluncuran pusat kajian.