Daftar Sekarang

Rektor Universitas Harkat Negeri Masuk 20 Besar Survei Kepemimpinan Nasional Berbasis Kompetensi

30 Oktober 2026 19:38:00 WIB
Rektor Universitas Harkat Negeri Masuk 20 Besar Survei Kepemimpinan Nasional Berbasis Kompetensi

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei opinion leaders tentang kualitas kepemimpinan nasional demokratik-transformatif.

Dalam survei tersebut, muncul nama Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, diantara banyak tokoh nasional. Dari 31 tokoh yang dirilis oleh SMRC, Sudirman Said berada di peringkat 17 dengan skor 6,3.

Sudirman Said dikenal sebagai tokoh nasional yang pernah menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia periode 2014–2016. Kini, ia mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Harkat Negeri, sebuah perguruan tinggi yang berlokasi di Kota Tegal, Jawa Tengah, dengan visi mengembangkan pendidikan tinggi terapan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Universitas Harkat Negeri mengembangkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, integritas, dan kemampuan beradaptasi. Pendekatan ini menjadi penting di tengah perubahan dunia kerja yang menuntut lulusan memiliki kompetensi profesional sekaligus kecakapan interpersonal.

Berbekal pengalaman Sudirman Said di tingkat nasional, kepemimpinan Universitas Harkat Negeri memiliki peluang untuk memperluas wawasan mahasiswa melalui jejaring profesional, kemitraan strategis, serta penguatan hubungan antara kampus dan dunia kerja. Pengalaman tersebut juga relevan untuk menanamkan nilai integritas, tanggung jawab, dan kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan publik.

Di bawah kepemimpinannya, Universitas Harkat Negeri berhasil mendapat penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Terproduktif Skema Insentif pada Klaster V pada PKM Award Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun 2026.

Pendiri SMRC Saiful Mujani menjelaskan skor tersebut merupakan hasil penilaian terhadap kualitas kepemimpinan sejumlah tokoh berdasarkan berbagai kategori.

“Itu temuan kami dari studi opinion leader ini tentang kualitas kepemimpinan nasional demokratik transformatif menjelang 2029,” kata Saiful yang merupakan Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta itu. 

Berikut daftar lengkap skor rata-rata kualitas tokoh yang dirilis dalam studi tersebut:

1. Mahfud MD — 7,6

2. Basuki Tjahaja Purnama — 7,0

3. Anies Baswedan — 7,0

4. Dedi Mulyadi — 7,0

5. Zainal Arifin Mochtar — 7,0

6. Pramono Anung Wibowo — 7,0

7. Sri Mulyani Indrawati — 6,9

8. Ganjar Pranowo — 6,8

9. Retno Marsudi — 6,8

10. Usman Hamid — 6,7

11. Sherly Tjoanda Laos — 6,7

12. Bivitri Susanti — 6,7

13. Saldi Isra — 6,7

14. Feri Amsari — 6,7

15. Agus Harimurti Yudhoyono — 6,5

16. Megawati Soekarnoputri — 6,4

17. Sudirman Said — 6,3

18. Sukidi — 6,3

19. Yusril Ihza Mahendra — 6,0

20. Ubedilah Badrun — 5,9

21. Andika Perkasa — 5,9

22. Surya Paloh — 5,7

23. Gatot Nurmantyo — 5,4

24. A. Muhaimin Iskandar — 5,4

25. Puan Maharani — 5,3

26. Almuzammil Yusuf — 5,3

27. Prabowo Subianto — 5,1

28. Zulkifli Hasan — 4,9

29. Bahlil Lahadalia — 4,9

30. Gibran Rakabuming Raka — 4,4

31. Kaesang Pangarep — 4,0

Penilaian kualitas tokoh dalam studi ini dilakukan berdasarkan sejumlah aspek yang berkaitan dengan kualitas personal dan kepemimpinan. Aspek-aspek tersebut meliputi kapabilitas atau kompetensi, empati, integritas, akseptabilitas, sikap pluralis-inklusif, kemampuan memimpin, komitmen terhadap demokrasi, komitmen terhadap kesejahteraan umum, komitmen terhadap profesionalisme angkatan bersenjata dan polisi, serta komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif. 

Hasil penilaian tersebut kemudian digunakan untuk menghitung skor rata-rata setiap tokoh dalam skala 0-10. 

SMRC menyatakan penilaian kualitas personal tokoh perlu dilakukan oleh responden yang memiliki pengetahuan terhadap seluruh tokoh yang dibandingkan. Hal ini diperlukan agar penilaian dilakukan secara setara atau apple to apple, bukan berdasarkan pengetahuan yang hanya mencakup sebagian tokoh.

Kelompok responden tersebut terdiri atas opinion leaders dengan latar belakang beragam, antara lain intelektual publik atau akademisi, pengamat, pimpinan media massa cetak, elektronik, dan daring, serta jurnalis senior yang biasa menjadi narasumber media massa.

Responden dicari melalui metode snowballing, terutama dengan menelusuri media massa nasional dan daerah.

SMRC menegaskan karena pemilihan responden tidak dilakukan secara random terhadap populasi opinion leaders, hasil studi ini lebih bersifat deskriptif daripada inferensial.

Survei ini melibatkan 200 opinion leaders, yang terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dari berbagai bidang dan 34 jurnalis. Dari jumlah tersebut, sebanyak 149 responden bersedia namanya dipublikasikan sebagai responden atau penilai.

 

Bagikan Berita ini: