Daftar Sekarang

Teliti Bawang Merah Jadi Obat Nyeri Otot, Inovasi Dosen Universitas Harkat Negeri Kantongi Paten Sederhana

29 Januari 2026 11:31:00 WIB
images/article_img_Teliti_Bawang_Merah_Jadi_Obat_Nyeri_Otot,_Inovasi_Dosen_Universitas_Harkat_Negeri_Kantongi_Paten_Sederhana.jpg

Dr. Heru Nurcahyo, dosen Program Studi D-3 Farmasi Universitas Harkat Negeri berhasil memperoleh sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum Republik Indonesia atas inovasinya dalam mengoptimalkan kandungan yang ada di bawang merah sebagai produk kesehatan yang bermanfaat.

Dekan Sekolah Vokasi ini menemukan formula emulgel analgesik topikal yang mengandung minyak asiri bawang merah. Formula digunakan untuk menurunkan nyeri Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau Gangguan Muskuloskeletal, cedera atau keluhan pada sistem otot, tulang, sendi, saraf, tendon, ligamen, dan jaringan ikat sebagai terapi untuk meredakan nyeri otot dan peradangan sendi.

Heru menuturkan, pada penelitian sebelumnya telah meracik minyak oles dengan konsentrasi minyak asiri bawang merah 5% dan 10%. Uji coba menunjukkan bahwa konsentrasi 10% menimbulkan iritasi ringan pada kulit, sedangkan konsentrasi 5% memberikan sensasi hangat dan nyaman. Penambahan 5% minyak mentol membuat aroma bawang merah tidak tercium, sekaligus memberikan efek aromaterapi.

“Dengan rendemen minyak asiri sekitar 1%, sebanyak 100 kilogram umbi bawang merah dapat menghasilkan sekitar 1 kilogram minyak asiri atau setara 1.250 ml. Jumlah tersebut cukup untuk memproduksi sekitar 2.500 botol minyak oles berukuran 10 ml dengan konsentrasi 5%. Hal ini menjadi inovasi bawang merah sebagai produk kesehatan,” kata Heru.

“Pada penelitian lanjutan, kami berhasil mengembangkan formula emulgel minyak asiri bawang merah (Allium ascalonicum L.) sebagai analgesik topikal yang berpotensi menjadi terapi komplementer untuk meredakan nyeri otot dan peradangan sendi akibat Musculoskeletal Disorders (MSDs),” tambah Heru.

MSDs merupakan salah satu gangguan kesehatan yang banyak dialami pekerja dan lanjut usia, dengan prevalensi lebih dari 70 persen. Gangguan ini ditandai dengan nyeri pada otot, sendi, ligamen, hingga saraf, yang dapat dipicu oleh beban kerja berlebih, postur tubuh yang tidak ergonomis, obesitas, serta akumulasi cedera. Kondisi tersebut mendorong perlunya alternatif terapi yang aman, efektif, dan mudah digunakan.

Penelitian ini menghadirkan inovasi berupa emulgel, yaitu kombinasi sistem emulsi dan gel, yang dirancang untuk meningkatkan stabilitas serta efektivitas minyak asiri bawang merah. Selama ini, minyak asiri dikenal memiliki keterbatasan karena sulit larut dalam air dan mudah menguap, sehingga mengurangi efektivitasnya sebagai sediaan topikal.

Melalui pendekatan formulasi emulgel, minyak asiri bawang merah dapat terdispersi dengan baik dalam medium air, memiliki stabilitas fisik yang lebih baik, serta mampu meningkatkan penetrasi zat aktif ke lapisan kulit hingga mencapai lokasi nyeri. Formula ini mengandung minyak asiri bawang merah 5 persen yang dikombinasikan dengan bahan pendukung seperti hidroksipropil metilselulosa (HPMC), tween 80, serta bahan pengawet yang aman bagi kulit.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa sediaan emulgel memiliki profil stabilitas fisik yang baik hingga enam siklus cycling test, tanpa perubahan warna, homogenitas, maupun aroma. Selain itu, nilai daya sebar berada pada kisaran 5–7 cm, pH sesuai dengan pH kulit (4,5–6,5), serta viskositas memenuhi standar nasional, sehingga aman dan nyaman digunakan sebagai analgesik topikal.

Dengan karakteristik tersebut, emulgel minyak asiri bawang merah dinilai memiliki potensi besar sebagai produk terapi topikal berbahan alami untuk membantu mengurangi nyeri otot dan peradangan sendi, khususnya bagi penderita MSDs. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif yang efektif, ekonomis, dan mudah diaplikasikan dalam mendukung kualitas hidup masyarakat.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal bawang merah tidak hanya bernilai sebagai bumbu dapur, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai produk kesehatan yang bernilai ekonomi.

Dr. Aldi Budi Riyanta, Direktur Penelitian & Abdimas Universitas Harkat Negeri, memberikan apresiasi dengan grantednya paten sederhana ini.

“Dari granted atau terbitnya sertifikat paten sederhana oleh Doktor Heru ini diharapkan menjadi pemicu dan pemacu granted dari paten-paten lainnya yg dihasilkan dari hasil penelitian. Selain itu, dengan adanya paten ini berharap karya-karya dosen ini dapat lebih dikenal dan dikomersialkan,” kata Aldi.

Bagikan Berita ini: