Transformasi menuju ekonomi berdaya tengah terjadi di Desa Cikedung, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, berkat program pengabdian kepada masyarakat tim dosen Universitas Harkat Negeri. Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini berhasil mengangkat daya saing petani kopi robusta lokal melalui teknologi tepat guna dan manajemen berkelanjutan.
Puncak kegiatan ditandai penyerahan bantuan alat pengolahan kopi modern pada Senin (25/8), setelah program intensif empat bulan. Acara dihadiri Kepala Desa Cikedung Slamet, seluruh anggota Kelompok Tani Sejahtera, serta perwakilan mitra dunia usaha.

Potensi Besar Terpendam
Desa Cikedung memiliki potensi kopi robusta luar biasa, menyumbang 50% total produksi kopi Kabupaten Pemalang dengan luas tanam 281,44 hektare dan produksi 207,85 ton per tahun. Namun, potensi besar ini belum dimanfaatkan optimal.
"Selama ini petani hanya menjual biji kopi kering dengan metode tradisional, padahal dengan pengolahan tepat, nilai tambah produk bisa meningkat hingga tiga kali lipat," ungkap Dr. Hesti Widianti, ketua tim pengabdian sekaligus dosen Program Studi S1 Manajemen Universitas Harkat Negeri.
Kelompok Tani Sejahtera pimpinan Tugiyanto menjadi mitra strategis program ini. Kelompok beranggotakan 20 petani ini sebelumnya memasarkan hasil panen sekitar 15 kuintal per tahun dengan harga Rp 30.000 per kilogram.
Tiga Pilar Pemberdayaan
Program "Meningkatkan Daya Saing Kopi Lokal Desa Cikedung melalui Manajemen Berkelanjutan dan Ekonomi Kreatif" mengusung pendekatan holistik tiga pilar.
Pilar pertama fokus peningkatan kemampuan manajemen dan keuangan. Tim memberikan pelatihan komprehensif pengelolaan anggaran, pencatatan keuangan, dan analisis biaya usaha. Target 80% peserta mampu memahami prinsip dasar manajemen keuangan dan 60% menerapkannya dalam praktik.
Pilar kedua mengoptimalkan proses pengolahan melalui teknologi tepat guna. Amin Nur Akhmadi, dosen Teknik Mesin, merancang peralatan modern meliputi mesin roasting dengan kapasitas tinggi dan kontrol suhu akurat, mesin grinder untuk menghasilkan bubuk kopi seragam, serta peralatan pengering kopi.
"Dengan teknologi ini, petani dapat mengolah kopi hingga menjadi bubuk siap jual dengan harga Rp 60.000-100.000 per kilogram. Potensi pendapatan bisa meningkat signifikan," papar Amin Nur Akhmadi.
Pilar ketiga mengembangkan strategi pemasaran modern yang dipimpin Miftakhul Huda, dosen Teknik Informatika. Program ini melatih petani menggunakan media sosial dan membangun platform digital untuk memperluas jangkauan pasar.
Kolaborasi Pentahelix
Program menjadi implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Akuntansi dan Teknik Mesin dalam pendampingan dan dokumentasi kegiatan.
Sugiyono, Ketua Kelompok Tani Sejahtera, mengapresiasi pendekatan menyeluruh ini. "Setelah mendapat pelatihan manajemen, pengolahan modern, dan strategi pemasaran digital, kami optimis meningkatkan nilai tambah produk dan percaya diri bersaing di pasar lebih luas," katanya.
Keberlanjutan program diperkuat melalui kolaborasi pentahelix melibatkan akademisi, pemerintah desa, masyarakat, dunia usaha (Koperasi Nadulang dan CV. Ridho Putra Jaya), serta media massa.
Infrastruktur Berkelanjutan
Kepala Desa Cikedung, Slamet, menunjukkan komitmen kuat. "Balai Desa Lama yang sebelumnya tidak terpakai kini difungsikan sebagai pusat kegiatan pengolahan kopi. Kami berkomitmen mendukung keberlanjutan melalui pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang mengelola operasional mandiri," tegasnya.
Kemitraan strategis dengan Koperasi Nadulang dan CV. Ridho Putra Jaya membuka akses distribusi lebih luas, sementara platform digital memungkinkan petani menjangkau konsumen langsung.
Target Terukur
Program menetapkan target terukur: 70% peningkatan efisiensi pengolahan, pengembangan minimal satu variasi produk baru dalam setahun, dan peningkatan penjualan 30% dalam enam bulan. Target didukung indikator kualitas dengan 70% produk memenuhi standar grade premium.
"Kegiatan ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, dan mengembangkan industri kreatif," tambah Dr. Hesti Widianti.
Program ini membuktikan investasi riset dan pengabdian kepada masyarakat dapat menghasilkan multiplier effect signifikan. Transformasi dari penjualan biji kopi Rp 30.000 per kilogram menjadi kopi bubuk premium Rp 60.000-100.000 per kilogram menunjukkan bagaimana teknologi dan manajemen tepat mengangkat harkat ekonomi masyarakat.
Dengan fondasi kolaborasi pentahelix, infrastruktur memadai, dan komitmen keberlanjutan, Desa Cikedung kini siap menjadi model pengembangan ekonomi kreatif berbasis komoditas lokal yang menginspirasi daerah lain di Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Kemenristek Dikti 2025 dengan fokus teknologi tepat guna, pelatihan komprehensif, dan infrastruktur pemasaran digital.