Universitas Harkat Negeri menggagas pembentukan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (Center for Coastal Urban Studies/CCUS) sebagai upaya strategis menghadapi tantangan perubahan iklim dan persoalan lingkungan di wilayah pesisir, khususnya Kota Tegal. Hal ini disampaikan kepada pihak Pemerintah Kota Tegal, pada Senin (9/2/2026).
Gagasan tersebut disampaikan dalam audiensi dan diskusi bersama jajaran Pemerintah Kota Tegal serta sejumlah pemangku kepentingan, yang dihadiri pimpinan Harkat Negeri, akademisi, peneliti, hingga mitra lembaga kajian perkotaan.
Wakil Rektor I Universitas Harkat Negeri, Agung Hendarto menegaskan bahwa keberadaan pusat kajian ini dilandasi urgensi kondisi wilayah pesisir yang kian terdampak perubahan iklim, seperti rob, banjir, kenaikan muka air laut, hingga longsor. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kami melihat isu perkotaan pesisir sebagai persoalan bersama. Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading, tetapi harus ikut berkontribusi dalam penyusunan kebijakan dan tindakan konkret,” ujarnya.
Sebagai kampus yang berada di wilayah pesisir, Harkat Negeri menilai Kota Tegal sebagai laboratorium penting pengembangan kebijakan perkotaan berkelanjutan. Pembentukan CCUS juga menjadi wujud komitmen Harkat Negeri dalam membangun kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga swasta.
CCUS Universitas Harkat Negeri dibangun melalui kerja sama dengan Rujak Center for Urban Studies, lembaga kajian yang selama ini aktif mendampingi komunitas perkotaan dan kawasan pesisir di berbagai daerah, termasuk Jakarta. Pendekatan utama yang digunakan adalah partisipatif, dengan melibatkan pengetahuan dan pengalaman warga lokal sebagai sumber utama perumusan kebijakan.
Pendiri Rujak Center, Marco Kusumawijaya menjelaskan bahwa kajian perkotaan pesisir memiliki karakteristik berbeda dibanding kota besar. Sekitar 130–150 juta penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir, namun riset dan pusat kajiannya masih sangat terbatas, terutama untuk kota-kota sekunder.
“Kota seperti Tegal memiliki potensi besar untuk menjadi contoh kota pesisir sekunder yang tangguh iklim. Pengetahuan lokal dan kolaborasi menjadi kunci utama,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, CCUS Harkat Negeri akan fokus pada beberapa isu strategis, antara lain transportasi dan mobilitas regional, fungsi permukiman dan desain bangunan adaptif iklim, serta dekarbonisasi material bangunan. Selain itu, program jangka panjang selama tiga tahun akan difokuskan pada penguatan kapasitas pemerintah daerah, ASN, masyarakat sipil, dan perguruan tinggi dalam perencanaan berbasis iklim, termasuk akses pembiayaan global.
Agus Dwi Sulistyantono, Sekretaris Daerah Kota Tegal menyambut baik inisiatif ini dan menilai kolaborasi model pentahelix antara pemerintah, akademisi, masyarakat, swasta, dan media sebagai kebutuhan mendesak dalam menghadapi kompleksitas persoalan lingkungan perkotaan.
Dengan pembentukan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir, Universitas Harkat Negeri menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan kota yang berkelanjutan dan berkeadilan.