Daftar Sekarang

Universitas Harkat Negeri Gelar Diskusi Akademik Bahas Asas Usaha Bersama dalam Membangun Ekonomi Bangsa

08 Januari 2026 11:59:00 WIB
images/article_img_Universitas_Harkat_Negeri_Gelar_Diskusi_Akademik_Bahas_Asas_Usaha_Bersama_dalam_Membangun_Ekonomi_Bangsa.jpg

Universitas Harkat Negeri menggelar diskusi akademik yang mengangkat tema “Asas Usaha Bersama dalam Membangun Ekonomi Bangsa, sebagai Perwujudan Pasal 33 UUD 1945” bersama guru besar dan beberapa dosen dari Yogyakarta pada Rabu (7/1/2026), bertempat di Ruang Rapat Utama Universitas Harkat Negeri. 

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan antara akademisi, aktivis, dan pemikir ekonomi kerakyatan dalam merespons tantangan pembangunan ekonomi nasional yang berkeadilan. 

Diskusi dibuka langsung oleh Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, yang menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada para narasumber dan peserta diskusi.

Dalam sambutannya, Sudirman Said menegaskan bahwa perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kekuatan pemikiran dan gerakan. Ia menekankan pentingnya peran akademisi untuk terus berpikir kritis dan bergerak dalam menjawab persoalan sosial-ekonomi bangsa. 

Menurutnya, diskusi ini menjadi gambaran bagi sivitas akademika Universitas Harkat Negeri tentang bagaimana pergerakan aktivis dan akademisi dapat bersinergi dalam membangun ekonomi berbasis usaha bersama.

Sementara itu, Untoro Hariadi menekankan pentingnya menggali gagasan-gagasan dasar akademik yang dapat disaring dan didiskusikan secara mendalam. Ia menyampaikan bahwa forum ini menjadi sarana untuk menanamkan sekaligus menyempurnakan berbagai gagasan yang telah dibahas sebelumnya agar memiliki relevansi dan dampak nyata bagi masyarakat.

Pemikiran kritis juga disampaikan oleh Dadang Juliantara yang memperkenalkan konsep Living Lab sebagai pendekatan gerakan ekonomi dan sosial. Konsep ini mengedepankan pengakuan atas pikiran warga melalui ruang diskusi terbuka lintas latar belakang. Living Lab menjadi wadah perjumpaan mandiri dan kolektif dengan cara duduk bersama warga, membangun kepercayaan, serta menjaga keseimbangan antara ekonomi, ekologi, dan epistemologi.

Ketua Forum 2024, Pinurba Parama Pratiyudha, turut memaparkan konsep Gotong Royong Ekonomi Baru yang mempertemukan kelompok 40 persen dan 1 persen melalui usaha bersama ekonomi. Kelompok 40 persen yang selama ini kerap menjadi objek ekonomi, seperti warung makan, pedagang asongan, hingga penjual kopi keliling. Kelompok ini didorong untuk menjadi subjek ekonomi yang diakui kontribusinya secara kolektif.

“Sementara itu, kelompok 1 persen diposisikan sebagai mitra strategis dalam penyaluran kesejahteraan melalui relasi ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan,” tutur Pinurba.

“Dari perjumpaan kedua kelompok tersebut, lahirlah gagasan Usaha Bersama Ekonomi (UBE) sebagai mediator dan katalisator. Konsep ini dinilai dapat menjadi langkah awal menuju transformasi dan rekonstruksi ekonomi nasional yang lebih berkeadilan, sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945,” tambah Pinurba.

Diskusi ini diharapkan mampu memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang produksi gagasan dan gerakan intelektual yang berpihak pada ekonomi kerakyatan serta kesejahteraan bersama.

 

Bagikan Berita ini: