Daftar Sekarang

Universitas Harkat Negeri Godok Wacana Integrasi Transportasi Pesisir di Kota Tegal

22 April 2026 13:01:00 WIB
images/article_img_Universitas_Harkat_Negeri_Godok_Wacana_Integrasi_Transportasi_Pesisir_di_Kota_Tegal.jpg

Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) Universitas Harkat Negeri kini menyasar urat nadi perekonomian kota: mobilitas. PKPP tengah mematangkan kajian komprehensif mengenai Sistem Transportasi Terintegrasi yang dirancang khusus untuk menaklukkan tantangan daerah perkotaan pesisir, dengan fokus penerapan di Kota Tegal.

​Kajian strategis ini lahir dari urgensi tingginya problematika mobilitas di kawasan pesisir utara (Pantura). Kota-kota pesisir seperti Tegal kerap dihadapkan pada dilema tata ruang yang rumit mulai dari kemacetan di jalur logistik, akses pelabuhan yang karut-marut, hingga ancaman banjir rob yang kerap melumpuhkan urat transportasi warga.

Bukan Sekadar Angkutan Umum Biasa

​Tim peneliti dari PKPP Harkat Negeri menegaskan bahwa wilayah pesisir membutuhkan perlakuan khusus. Sistem transportasi darat konvensional tidak bisa serta-merta dijiplak mentah-mentah ke daerah yang berbatasan langsung dengan laut.

Oleh karena itu, studi ini merumuskan sebuah ekosistem transportasi yang benar-benar terintegrasi. Konsep ini akan menghubungkan sentra-sentra vital pesisir seperti pelabuhan perikanan, kawasan hunian nelayan (seperti purwarupa yang diadaptasi dari Kampung Akuarium Jakarta), hingga pusat niaga kota dalam satu jaringan mobilitas yang mulus, efisien, dan tahan terhadap anomali cuaca pesisir.

​Inspirasi Integrasi Transjakarta dan JakLingko

​Dalam merancang cetak biru ini, PKPP berkaca pada fenomena suksesnya integrasi transportasi di ibu kota. Keberhasilan menyatukan moda transportasi raksasa seperti Transjakarta dan MRT dengan angkutan lingkungan menjadi fondasi kuat dari kajian ini.

​Sorotan utama jatuh pada sistem terpadu JakLingko. Sistem ini membuktikan bahwa layanan angkutan kota (angkot) berskala mikro yang dikelola oleh koperasi bisa disulap menjadi moda yang tertib, profesional, dan nyaman. Lebih jauh lagi, dengan manajemen subsidi silang dan pengelolaan yang transparan di bawah koperasi, sistem ini terbukti mampu memberikan fasilitas skema tarif Rp 0 bagi seluruh masyarakat.

​Skema kolaborasi mutakhir antara pemerintah, warga, dan koperasi transportasi inilah yang tengah disiapkan formatnya untuk direplikasi ke kawasan pesisir.

Tegal Sudah Melek Digital dan Terbiasa QRIS

​Menerapkan sistem sekelas JakLingko di daerah pesisir mungkin terdengar ambisius bagi sebagian pihak. Namun, Yeni Priatna Sari, dosen Universitas Harkat Negeri sekaligus anggota peneliti PKPP, menepis keraguan tersebut. Ia meyakini hal tersebut sangat mungkin diwujudkan di Kota Tegal.

"Penerapan sistem integrasi transportasi yang memadukan rute cerdas dan pembayaran non-tunai di Tegal bukanlah sebuah utopia," tegas Yeni pada momen observasi dan percobaan sarana transportasi integrasi di Jakarta, Selasa, 21 April 2026 ini.

​"Kota Tegal memiliki klasifikasi demografi penduduk yang sangat mendukung. Masyarakatnya cukup adaptif, paham akan perkembangan teknologi, dan yang paling krusial, mereka sudah melek digital. Sebagai bukti konkret, kita bisa melihat pesatnya digitalisasi dari banyaknya usaha di Tegal yang kini mengandalkan metode pembayaran QRIS, dan mayoritas masyarakat pun sudah sangat terbiasa menggunakan transaksi non-tunai ini dalam keseharian. Ini adalah modal sosial yang sangat masif untuk mengadopsi sistem seperti JakLingko," lanjut Yeni memaparkan optimisme kajiannya.

​Penerapan Sistem Transportasi Terintegrasi di Tegal diyakini dapat mengurai benang kusut kemacetan logistik dan mempermudah aksesibilitas masyarakat pesisir yang selama ini terhambat. 

Ke depannya, cetak biru transportasi pesisir karya PKPP Universitas Harkat Negeri ini diharapkan segera dilirik oleh pemerintah daerah setempat untuk menyulap Tegal menjadi barometer kota pesisir paling modern di kelasnya.

Bagikan Berita ini: