Universitas Harkat Negeri terus memperkuat pengembangan pendidikan vokasi dengan mematangkan rencana pembukaan Program Studi Diploma 4 (D4) Arsitektur Lanskap. Langkah tersebut dibahas melalui Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Program Studi Arsitektur Lanskap yang melibatkan unsur pimpinan universitas, akademisi, praktisi, serta perwakilan sejumlah SMK, di Kampus Pendidikan Universitas Harkat Negeri pada Kamis (10/9/2026).
Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said mengatakan pengembangan program studi baru merupakan bagian dari upaya Universitas Harkat Negeri menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Menurutnya, pembukaan D4 Arsitektur Lanskap tidak hanya harus dilihat dari aspek pendirian program studi, tetapi juga dari kesiapan ekosistem pendidikan yang mendukung mahasiswa memperoleh kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Pengembangan program studi harus berangkat dari kebutuhan nyata dan memiliki relevansi dengan perkembangan masyarakat, dunia usaha dan dunia industri. Karena itu, Universitas Harkat Negeri perlu memastikan kurikulum, sumber daya manusia, sarana prasarana, hingga profil lulusan benar-benar disiapkan secara matang,” ujar Sudirman Said.
Arsitektur Lanskap sendiri merupakan disiplin yang mengintegrasikan desain, seni, ilmu lingkungan, ekologi, teknologi, dan perencanaan. Bidang ini mencakup pengelolaan ruang luar dan hubungan manusia dengan lingkungan, dengan objek garap antara lain vegetasi, tanah, air, topografi, ruang terbuka, ekosistem, serta elemen binaan.
Ruang lingkup Arsitektur Lanskap juga sangat luas, mulai dari taman dan ruang terbuka hijau, ruang publik, kawasan pendidikan, perumahan, pariwisata, waterfront, koridor jalan, konservasi dan restorasi ekosistem, hingga pengembangan infrastruktur hijau dan ketahanan iklim.
Tim Penyusun Naskah Akademik, Bambang Sulistyantara, menjelaskan bahwa Arsitektur Lanskap memiliki peran yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar merancang taman.
“Arsitektur Lanskap merupakan disiplin strategis yang mengintegrasikan desain, ekologi, dan perencanaan. Lanskap bukan hanya ruang yang dibuat indah, tetapi merupakan ruang hidup yang terus berubah dan memiliki fungsi ekologis serta sosial,” jelas Bambang.
Ia menambahkan, perkembangan Arsitektur Lanskap saat ini telah mengalami pergeseran paradigma. Jika sebelumnya lebih banyak berorientasi pada desain ruang luar, kini pendekatannya berkembang menuju perencanaan ekologis, infrastruktur hijau, hingga lanskap regeneratif.
“Yang kita bangun bukan hanya program studi baru, tetapi sebuah ekosistem pembelajaran yang membuat mahasiswa memiliki kemampuan untuk bekerja. Karena itu, profil lulusan, capaian pembelajaran, kurikulum, dosen, laboratorium, dan pengalaman praktik harus dirancang dalam satu kesatuan,” ujar Bambang.
Perubahan tersebut menjadikan Arsitektur Lanskap semakin relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer, seperti perubahan iklim, urban heat island, pengelolaan air hujan, ketahanan kota, restorasi sungai dan lahan basah, serta penyediaan ruang hijau untuk mendukung kesehatan masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, kebutuhan terhadap kompetensi tersebut juga semakin penting. Berbagai persoalan seperti banjir, keterbatasan ruang terbuka hijau, peningkatan suhu perkotaan, degradasi sungai, hilangnya habitat, dan perubahan iklim membutuhkan pendekatan pengelolaan lanskap yang terintegrasi.
Tim Penyusun Naskah Akademik lainnya, Anggi Mardiyanto mengatakan salah satu kekuatan Arsitektur Lanskap terletak pada posisinya yang dapat menjembatani berbagai disiplin.
“Arsitektur Lanskap memiliki posisi yang unik karena berada pada irisan antara desain, lingkungan, dan perencanaan. Dalam pembangunan suatu kawasan, bidang ini dapat menjadi penghubung antara Arsitektur dan Perencanaan Wilayah dan Kota melalui pengelolaan ruang terbuka, vegetasi, pedestrian, air hujan, ruang sosial, serta kualitas ekologis kawasan,” kata Anggi.
Dalam pembangunan kampus, misalnya, PWK berperan menentukan konteks kawasan, aksesibilitas, tata guna lahan, dan kebijakan spasial. Arsitektur merancang bangunan, sementara Arsitektur Lanskap berperan dalam merancang ruang terbuka, vegetasi, pedestrian, drainase air hujan, ruang sosial, serta kualitas ekologis. Ketiganya idealnya dirancang secara terpadu.
Menurut Anggi, pendekatan tersebut sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang ingin dikembangkan Universitas Harkat Negeri, yakni menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi praktis dan dapat langsung beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.
FGD menjadi bagian penting dalam persiapan penyusunan Naskah Akademik sebagai dasar pengembangan Program Studi D4 Arsitektur Lanskap. Pertemuan tersebut diarahkan untuk menyamakan ekspektasi, memastikan dukungan kelembagaan, sekaligus mengunci kebutuhan data dan substansi yang diperlukan.
Selain aspek akademik, Universitas Harkat Negeri juga akan melakukan kajian kebutuhan pasar dan potensi serapan lulusan. Data calon mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, serta kebutuhan dunia usaha dan dunia industri akan menjadi bagian dari bahan penyusunan Naskah Akademik.
Anggi menambahkan, diferensiasi program studi juga menjadi salah satu aspek yang masih akan dikaji secara mendalam. Sejumlah alternatif fokus yang dibahas antara lain Bisnis Lanskap, Lanskap Pesisir, dan Lanskap Perkotaan.
“Diferensiasi menjadi penting agar program studi yang dikembangkan Universitas Harkat Negeri memiliki karakter yang jelas dan mampu menjawab kebutuhan lingkungan di sekitarnya. Kajian tersebut akan menjadi bagian dari proses penyusunan Naskah Akademik dan pemetaan kebutuhan dunia kerja,” katanya.
Melalui pengembangan D4 Arsitektur Lanskap, Universitas Harkat Negeri terus memperkuat arah sebagai perguruan tinggi terapan yang menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan nyata masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri.
Bagi Universitas Harkat Negeri, pembukaan program studi baru bukan sekadar penambahan pilihan pendidikan, tetapi bagian dari upaya menghadirkan lulusan yang relevan, adaptif, dan memiliki keterampilan untuk berkontribusi dalam pembangunan kawasan yang fungsional, sehat, ekologis, dan berkelanjutan.